Ngaben adalah salah satu upacara yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali yang termasuk dalam upacara Pitra Yadnya (upacara yang diperlihatkan kepada Leluhur). Beberapa gagasan tentang Ngaben, sebagai berikut:
1. Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan endingnya, sehingga menjadi ngapian, yang dikodekan menjadi ngapen yang dari waktu ke waktu terjadi menggeser kata tersebut ke Ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api beton (api nyata) dan api abstrak (api yang berasal dari Mantra Mantra Puja yang memimpin upacara).
2. Versi lain mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang berarti makan siang, jadi Ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Patriark untuk perjalanannya ke Sunia Loka.
3. Versi lain, Ngaben berasal dari nge - "ash" - in. Dikodekan menjadi Ngaben, adalah upacara mengembalikan unsur - unsur tubuh ke unsur - unsur alam.
Baca : 20 Tempat Wisata Yang Wajib dikunjungi ketika liburan di Bali
Upacara Ngaben secara konseptual memiliki arti dan tujuan sebagai berikut:
1. Dengan membakar tubuh dan juga simbolisnya, mereka menyulami abu ke sungai, atau laut memiliki arti untuk melepaskan Atma (roh) dari belenggu dunia sehingga mereka dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam)
2. Membakar jenazah juga merupakan rangkaian upacara untuk mengembalikan semua unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur tubuh pembentuk tubuh manusia) ke asal masing-masing agar tidak menghalangi jalan Atma ke Sunia Loka Bagian Panca Maha Bhuta yaitu: Sebuah. Nisa: unsur padat yang membentuk tulang, daging, kuku, dll b. Apah: unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll c. Bayu: elemen pembentuk udara. D. Teja: unsur panas yang membentuk suhu tubuh. E. Akasa: unsur eter yang membentuk rongga di dalam tubuh.
3. Bagi keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa keluarga telah tulus, dan melepaskan yang bersangkutan.
Bentuk Upacara Ngaben
Ngaben Sawa Wedana
Sawa Wedana adalah upacara Ngaben yang melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur dulu). Biasanya upacara ini diadakan dalam waktu 3-7 hari sejak orang tersebut meninggal. Pengecualian umum terjadi pada upacara dalam skala besar, yang persiapannya bisa bertahan hingga sebulan. Sementara keluarga menyiapkan segala sesuatu untuk upacara maka tubuh akan ditempatkan di aula adat di setiap rumah dengan bekal ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Saat ini pemberian ramuan ini sering diganti dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih ditempatkan di aula tradisional, keluarga masih memperlakukan mayat tersebut seolah-olah masih hidup, seperti membawa kopi, makan di samping tubuh, membawa handuk dan pakaian, dll sebelum upacara yang disebut Papegatan maka Yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan tetap berada di lingkungan keluarganya.Ngaben Asti Wedana
Asti Wedana adalah upacara kremasi yang melibatkan sisa-sisa jenazah yang pernah dikuburkan. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, upacara penggalian kembali kuburan orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang yang tersisa. Hal ini dilakukan sesuai dengan tradisi dan peraturan desa setempat, misalnya ada upacara tertentu dimana warga desa tidak diperkenankan melakukan upacara kematian dan upacara pernikahan maka jenazahnya akan dimakamkan di sebuah makam lokal yang disebut upacara Makingsan cincin Pertiwi ( Hilang di tanah air).Swasta
Swasta adalah upacara kremasi tanpa melibatkan mayat atau kerangka, hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal, seperti: tempat asing yang mati atau terpencil, badan tidak ditemukan, dll. Pada upacara ini jenazah biasanya dilambangkan dengan kayu cendana (pengawak ) Melukis dan mengisi naskah magis sebagai bagian kasar dari keterikatan orang tersebut.Ngelungah
Ngelungah adalah upacara untuk anak-anak yang belum tanggal gigi.Warak Kruron
Warak Kruron adalah upacara untuk keguguran bayi.Tujuan Upacara Ngaben
Upacara Ngaben secara konseptual memiliki arti dan tujuan sebagai berikut:
1. Dengan membakar tubuh dan juga simbolisnya, mereka menyulami abu ke sungai, atau laut memiliki arti untuk melepaskan Atma (roh) dari belenggu dunia sehingga mereka dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam)
2. Membakar jenazah juga merupakan rangkaian upacara untuk mengembalikan semua unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur tubuh pembentuk tubuh manusia) ke asal masing-masing agar tidak menghalangi jalan Atma ke Sunia Loka Bagian Panca Maha Bhuta yaitu: Sebuah. Nisa: unsur padat yang membentuk tulang, daging, kuku, dll b. Apah: unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll c. Bayu: elemen pembentuk udara. D. Teja: unsur panas yang membentuk suhu tubuh. E. Akasa: unsur eter yang membentuk rongga di dalam tubuh.
3. Bagi keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa keluarga telah tulus, dan melepaskan yang bersangkutan.

EmoticonEmoticon