Ngaben, Upacara Tradisional yang Unik dari Bali Indonesia


Ngaben adalah salah satu upacara yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali yang termasuk dalam upacara Pitra Yadnya (upacara yang diperlihatkan kepada Leluhur). Beberapa gagasan tentang Ngaben, sebagai berikut:

1. Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan endingnya, sehingga menjadi ngapian, yang dikodekan menjadi ngapen yang dari waktu ke waktu terjadi menggeser kata tersebut ke Ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api beton (api nyata) dan api abstrak (api yang berasal dari Mantra Mantra Puja yang memimpin upacara).

2. Versi lain mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang berarti makan siang, jadi Ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Patriark untuk perjalanannya ke Sunia Loka.

3. Versi lain, Ngaben berasal dari nge - "ash" - in. Dikodekan menjadi Ngaben, adalah upacara mengembalikan unsur - unsur tubuh ke unsur - unsur alam.

Baca : 20 Tempat Wisata Yang Wajib dikunjungi ketika liburan di Bali

Bentuk Upacara Ngaben

Ngaben Sawa Wedana

Sawa Wedana adalah upacara Ngaben yang melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur dulu). Biasanya upacara ini diadakan dalam waktu 3-7 hari sejak orang tersebut meninggal. Pengecualian umum terjadi pada upacara dalam skala besar, yang persiapannya bisa bertahan hingga sebulan. Sementara keluarga menyiapkan segala sesuatu untuk upacara maka tubuh akan ditempatkan di aula adat di setiap rumah dengan bekal ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Saat ini pemberian ramuan ini sering diganti dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih ditempatkan di aula tradisional, keluarga masih memperlakukan mayat tersebut seolah-olah masih hidup, seperti membawa kopi, makan di samping tubuh, membawa handuk dan pakaian, dll sebelum upacara yang disebut Papegatan maka Yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan tetap berada di lingkungan keluarganya.

Ngaben Asti Wedana

Asti Wedana adalah upacara kremasi yang melibatkan sisa-sisa jenazah yang pernah dikuburkan. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, upacara penggalian kembali kuburan orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang yang tersisa. Hal ini dilakukan sesuai dengan tradisi dan peraturan desa setempat, misalnya ada upacara tertentu dimana warga desa tidak diperkenankan melakukan upacara kematian dan upacara pernikahan maka jenazahnya akan dimakamkan di sebuah makam lokal yang disebut upacara Makingsan cincin Pertiwi ( Hilang di tanah air).

Swasta

Swasta adalah upacara kremasi tanpa melibatkan mayat atau kerangka, hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal, seperti: tempat asing yang mati atau terpencil, badan tidak ditemukan, dll. Pada upacara ini jenazah biasanya dilambangkan dengan kayu cendana (pengawak ) Melukis dan mengisi naskah magis sebagai bagian kasar dari keterikatan orang tersebut.

Ngelungah

Ngelungah adalah upacara untuk anak-anak yang belum tanggal gigi.

Warak Kruron

Warak Kruron adalah upacara untuk keguguran bayi.


Tujuan Upacara Ngaben


Upacara Ngaben secara konseptual memiliki arti dan tujuan sebagai berikut:

1. Dengan membakar tubuh dan juga simbolisnya, mereka menyulami abu ke sungai, atau laut memiliki arti untuk melepaskan Atma (roh) dari belenggu dunia sehingga mereka dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam)

2. Membakar jenazah juga merupakan rangkaian upacara untuk mengembalikan semua unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur tubuh pembentuk tubuh manusia) ke asal masing-masing agar tidak menghalangi jalan Atma ke Sunia Loka Bagian Panca Maha Bhuta yaitu: Sebuah. Nisa: unsur padat yang membentuk tulang, daging, kuku, dll b. Apah: unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll c. Bayu: elemen pembentuk udara. D. Teja: unsur panas yang membentuk suhu tubuh. E. Akasa: unsur eter yang membentuk rongga di dalam tubuh.

3. Bagi keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa keluarga telah tulus, dan melepaskan yang bersangkutan.


Ritual Upacara Ngaben


Ngulapin

Upacara untuk memanggil Atma. Upacara ini juga dilakukan jika orang meninggal di luar rumah (misalnya di rumah sakit, dll). Upacara ini dapat bervariasi tergantung pada adat istiadat dan tradisi setempat, beberapa dilakukan di persimpangan jalan, persimpangan jalan, dan kuburan lokal.

Nyiramin / Ngemandusin

Upacara mandi dan membersihkan jenazah biasanya dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan (natah). Prosesi ini juga disertai dengan simbol seperti bunga melati di rongga hidung, pembelahan kaca di atas mata, alis di alis, dan peralatan lainnya dengan tujuan mengembalikan fungsi bagian tubuh yang tidak terpakai ke asalnya, dan kapan semangat almarhum Reinkarnasi lagi untuk dikaruniai tubuh yang lengkap (tidak cacat).

Ngajum Kajang

Kajang adalah selembar kertas putih yang ditulis dengan naskah magis oleh pemangku kepentingan lokal, imam atau penatua. Setelah selesai menulis kerabat dan keturunan yang bersangkutan akan melaksanakan upacara ngajum kajang dengan menekan kajang sebanyak 3x, sebagai simbol kemantapan hati kerabat melepaskan kepergian almarhum dan mempersatukan hati kerabat sehingga almarhum bisa cepat melakukan perjalanan ke yang berikutnya.

Ngaskara

Ngaskara berarti pemurnian semangat almarhum. Pemurnian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan bisa bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi sanak keluarga mentor yang masih hidup di dunia.

Mameras

Mameras berasal dari kata squeeze yang berarti sukses, sukses, atau selesai. Upacara ini dilakukan saat sudah meninggal cucu, karena menurut kepercayaan cucu itu akan menuntun jalan almarhum melalui sholat dan karma baik yang mereka lakukan.

Papegatan

Papegatan berasal dari kata pegat, yang berarti putus, makna dari upacara ini adalah untuk memutus hubungan duniawi dan cinta keluarga almarhum, karena kedua hal ini akan menghambat perjalanan roh kepada Tuhan. Dengan upacara ini keluarga berarti telah dengan sungguh-sungguh menyingkirkan kepergian almarhum ke tempat yang lebih baik. Sarana upacara ini adalah persembahan (banten) yang disusun di atas batu mortar dan diatasnya diisi dengan dua cabang pohon dadap yang terbentuk seperti gawang dan untaian benang putih di kedua cabang pohon tersebut. Belakangan thread ini akan disusupi oleh kerabat dan pembawa jenazah sebelum meninggalkan rumah untuk putus.

Pakiriman

Hutang Dalam melaksanakan setelah upacara pepegatan diikuti oleh pakiriminan ke pemakaman setempat, jenazah dan kajangnya kemudian diangkat ke puncak Bade / Wadah, menara jenazah (ini tidak mutlak harus ada, bisa diganti dengan yang lain. kerla biasa disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan membawa semua peralatan seremonial beserta jenazahnya yang didampingi oleh suara Baleganjur (gong gong) yang berdebar kencang dan bersemangat, atau bunyi angklung yang terkesan sedih. Dalam perjalanan ke kuburan ini akan diarak memutar 3x berlawanan arah jarum jam yang berarti sebagai simbol mengembalikan unsur-unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Selain rotasi ini juga bermakna: Spinning 3x di depan rumah almarhum sebagai simbol perpisahan dengan saudara. Spinning 3x di persimpangan dan persimpangan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar 3x di depan kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.

Ngising

Ngising adalah upacara pemakaman, jenazah diletakkan di tempat yang telah disediakan, disertai persembahan dan banten dengan makna filosofisnya sendiri, kemudian ditaburi oleh pendeta yang memimpin upacara bersama Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak yang disertai Puja. Mantra dari pastor, Jenazah dibakar sampai hangus, tulang-belulang pembakaran kemudian hancur dan dirakit lagi pada buah gading yang telah dikeluarkan airnya.

Nganyud

Nganyud berarti ritual untuk membasuh semua kekotoran batin yang masih tersisa dalam semangat almarhum dengan melambangkan abu mayat. Upacara ini biasanya dilakukan di laut, atau sungai.

Makelud

Makelud biasanya diadakan 12 hari setelah upacara pembakaran. Arti dari upacara makelud ini adalah untuk membersihkan dan menguduskan lingkungan keluarga karena kesedihan yang melanda keluarga yang ditinggalkan. Kesedihan filosofis 12 hari ini diambil dari Mahabharata Wiracarita, saat Pandawa mengalami hukuman 12 tahun di hutan.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »