Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah yang Masih Mempertahankan Budaya

Kota JogJa

Daerah Istimewa Yogyakarta (Jawa: Dhaérah Istiméwa Ngayogyakarta) adalah Daerah Istimewa di Indonesia yang merupakan perpaduan antara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Bagian Paku Alaman Kadipaten. Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan Pulau Jawa, dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudra Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 terdiri dari satu kotamadya, dan empat kabupaten, terbagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 kelurahan / kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 ada populasi 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki, dan 1.746.986 perempuan, dan memiliki kepadatan penduduk 1.084 jiwa per km2.

Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu lama menimbulkan nomenklatur ke DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa Yogyakarta sering dikaitkan dengan kota Yogyakarta sehingga tidak tepat untuk disebut Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta. Meski secara geografis merupakan daerah tingkat provinsi terbesar kedua setelah DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal di tingkat nasional, dan internasional, terutama sebagai tempat wisata andalan setelah Provinsi Bali. Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami beberapa bencana alam besar termasuk gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006, letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober-November 2010, dan letusan Gunung Kelud, Jawa Timur pada tanggal 13 Februari 2014.

Sejarah

Sebelum merdeka, Yogyakarta adalah daerah yang memiliki pemerintahan sendiri atau disebut Kawasan Zelfbestuurlandschappen / Swapraja, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang memegang gelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755, sementara Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (saudara laki-laki Sultan Hamengku Buwono II) yang bertajuk Duke of Paku Alam I pada tahun 1813. Hindia Belanda pemerintah mengakui Kesultanan, dan Pakualaman sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumahnya sendiri yang dinyatakan dalam kontrak politik. Kontrak politik terakhir Kesultanan dicantumkan di Staatsblaad 1942 No. 47, sedangkan kontrak politik Pakualaman di Staatsblaad 1941 Nomor 577. Keberadaan kedua kerajaan tersebut telah diakui secara internasional, baik selama masa penjajahan Belanda, Inggris, dan Jepang. . Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, kedua kerajaan tersebut siap menjadi negara mandiri dan mandiri, lengkap dengan sistem pemerintahannya (teritorial), wilayah dan populasi.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan kepada Presiden Republik Indonesia bahwa Kesultanan Yogyakarta, dan Wilayah Pakualaman menjadi wilayah negara Republik Indonesia, bergabung menjadi satu kesatuan yang dinyatakan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII selaku Kepala Daerah, dan Wakil Kepala Daerah yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Hal ini dinyatakan dalam:

  • Piagam posisi Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden Republik Indonesia.
  • Mandat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 (dibuat terpisah).
  • Mandat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 oktober 1945 (dibuat dalam satu naskah).
Pada sejarah berikutnya, posisi DIY sebagai Daerah Otonom di tingkat provinsi sesuai dengan maksud pasal 18 UUD 1945 (sebelum amandemen) diatur oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-Undang Dasar Pemerintahan Daerah. Sebagai tindak lanjutnya maka Daerah Istimewa Yogyakarta didirikan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1945 tentang Pembentukan Peraturan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta No. 31/1950 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 19555 (Lembaran Negara Tahun 1959). No. 71, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1819) yang masih berlaku. Dalam UU DIY disebutkan daerah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Duchy Daerah Pakualaman. Dalam setiap undang-undang yang mengatur Pemerintahan Daerah, hak istimewa DIY diakui, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

Dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), DIY memiliki peran penting. Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai tanggal 27 Desember 1949 telah dibuat sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4 Januari ini kemudian ditetapkan menjadi kota Kota Yogyakarta pada tahun 2010. Saat ini Kesultanan Ngayogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin oleh Sri Paku Alam X yang juga menjabat sebagai Gubernur, dan Wakil Gubernur DIY. Keduanya memainkan peran yang menentukan dalam menjaga nilai-nilai budaya, dan adat istiadat Jawa dan menyatukan masyarakat Yogyakarta.

Geografi

DIY terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, secara geografis terletak pada 8º 30 '- 7º 20' Lintang Selatan, dan 109º40 '- 111º 0' Bujur Timur. Berdasarkan lansekap, wilayah DIY dapat dikelompokkan menjadi empat unit fisiografi, yaitu unit fisiografi Gunung Merapi, Gunung Sewu atau unit fisiografi Gunung Seribu, unit fisiografi Gunung Kulon Progo, dan unit fisiografi dataran rendah.

Unit fisiografi gunung berapi Gunung Merapi, mulai dari kerucut vulkanik hingga dataran vulkanik vulkanik termasuk pemandangan vulkanik, meliputi Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Bantul. Daerah kerucut, dan lereng gunung berapi adalah kawasan hutan lindung sebagai daerah tangkapan air di daerah subordinat. Unit landscape ini terletak di utara Sleman. Gunung Merapi yang merupakan gunung berapi aktif dengan ciri khas, memiliki daya tarik sebagai objek penelitian, pendidikan, dan pariwisata.

Kart mendominasi struktur bumi di wilayah selatan Gunungkidul

Unit pegunungan selatan atau Pegunungan Seribu, yang terletak di daerah Gunungkidul, adalah perbukitan kapur dan lanskap karst yang mandul, dan kekurangan air permukaan, dengan bagian tengahnya merupakan DAS Wonosari yang dikembangkan secara teknologis yang membentuk Plato Wonosari (dataran tinggi Wonosari). Unit ini merupakan lansekap proses solusional (pelarut), dengan bahan induk kapur, dan memiliki karakteristik lapisan dangkal, dan tutupan vegetasi sangat jarang terjadi.

Unit Gunung Kulon Progo, yang terletak di Kulon Progo utara, adalah lanskap struktural denudasional dengan topografi berbukit, lereng terjal, dan potensi air tanah yang kecil.

Unit Dataran Rendah, adalah hamparan fluvial (hasil proses pengendapan sungai) yang didominasi oleh dataran aluvial, membentang di bagian selatan DIY, dari Kulon Progo sampai Bantul yang berbatasan dengan Pegunungan Seribu. Unit ini merupakan daerah yang subur. Termasuk dalam unit ini adalah pemandangan laut dan bentang alam yang tidak terbentang, daerah pesisir yang membentang dari Kulon Progo sampai ke Bantul. Lanskap Marin dan eolin di Parangtritis Bantul, yang terkenal dengan bukit pasirnya, adalah laboratorium alami untuk studi lansekap pesisir.

Dataran Pantai Parangtritis

Kondisi fisiografi berpengaruh pada distribusi populasi, ketersediaan infrastruktur, dan sarana daerah, dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat, serta perkembangan pembangunan di antara daerah lumpuh. Daerah yang relatif datar, seperti dataran fluvial yang meliputi Sleman, Yogyakarta dan Bantul (terutama di perkotaan aglomerasi Yogyakarta) adalah daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, dan memiliki aktivitas sosio-ekonomi intensitas tinggi, maju, dan berkembang.

Dua daerah aliran sungai utama (DAS) di DIY adalah perairan Progo di barat, dan DAS Opak-Oya di timur. Sungai-sungai yang terkenal di DIY meliputi Sungai Serang, Sungai Progo, Sungai Bedog, Sungai Winongo, Sungai Boyong-Code, Sungai Gajah Wong, Sungai Opak, dan Sungai Oya.


Ekonomi

Ekonomi Khusus Yogyakarta meliputi sektor investasi; Industri, Perdagangan, Koperasi, dan UKM; Pertanian; Ketahanan pangan; Kehutanan, dan Perkebunan; Perikanan dan Kelautan; Energi dan Sumber Daya Mineral; serta Pariwisata.

Investasi dan industri

Investasi di DIY dilaksanakan melalui program promosi promosi, kerjasama investasi dan program peningkatan iklim investasi, dan realisasi investasi. Total pencapaian investasi pada tahun 2010 mencapai Rp 4.580.972.827.244,00 dengan rincian PMDN sebesar Rp 1.884.925.869.797,00 dan PMA sebesar 2.696.046.957.447,00. Unit usaha di DIY tahun 2010 ada sekitar 78.122 unit dengan tenaga kerja 292.625 orang, dan nilai investasinya sebesar Rp. 878.063.496.000,00

Perdagangan dan UKM

Berbagai produk ekspor DIY meliputi produk kulit, tekstil dan kayu. Pakaian tekstil dan mebel kayu adalah produk yang memiliki nilai ekspor tertinggi. Namun secara umum, ekspor ke luar negeri didominasi oleh produk yang dihasilkan dengan nilai artistik, kreatif, dan padat karya yang tinggi. Program pengembangan koperasi dan UKM di DIY, salah satunya adalah pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah yang disinergikan dengan kebijakan program pemerintah pusat. Salah satu upaya pengembangan UKM adalah melalui kelompok (center) karena usaha ini lebih efektif, dan efisien, disamping pusat akan melibatkan banyak usaha mikro dan kecil. Pada 2010, ada 1.926 koperasi yang aktif, dan UKM tercatat sebanyak 13.998 unit usaha

Pertanian dan kehutanan

Tingkat kesejahteraan petani di sektor pertanian di DIY yang diukur dengan NTP Farmer's Exchange Rate (NTP) dapat menjadi salah satu indikator yang menunjukkan tingkat kesejahteraan petani di suatu daerah. Pada tahun 2010 NTP adalah 112,74%. Ketahanan pangan merupakan bagian terpenting dalam memenuhi hak atas pangan sekaligus sebagai salah satu pilar utama hak asasi manusia. Secara umum, ketersediaan makanan di DIY cukup memadai karena berkaitan dengan musim panen sehingga pengaturan distribusi dibutuhkan oleh pemerintah. Memenuhi kebutuhan ikan di DIY dapat dipenuhi dari perikanan tangkap dan budidaya. Untuk perikanan dilakukan melalui pengembangan pelabuhan perikanan Sadeng dan Glagah. Produksi akuakultur pada tahun 2010 mencapai 39.032 ton, dan perikanan tangkap mencapai 4.906 ton, dengan konsumsi ikan 22,06 kg / kap / tahun.

Hutan di DIY didominasi oleh hutan produksi, yang sebagian besar berada di Kabupaten Gunungkidul. Persentase luas hutan di DIY tahun 2010 sebesar 5,87% dengan rehabilitasi lahan kritis sebesar 9,93% dan kerusakan kawasan hutan sebesar 4,94%. Sektor perkebunan, dalam hal produksi perkebunan potensial di DIY adalah kelapa, dan tebu. Kegiatan perkebunan diprioritaskan dalam konteks penanaman tanaman pangan skala ekonomi serta peningkatan produksi, produktivitas, dan kualitas hasil panen untuk meningkatkan pendapatan petani.

ESDM

Mineral atau mineral di DIY adalah Bahan Galian C yang meliputi, pasir, kerikil, batu kapur, kalsit, kaolin, dan zeolin dan breksi. Selain mineral Kelas C ini, ada tambang Kelas A berbentuk Batubara. Batubara ini sangat terbatas jumlahnya, begitu juga untuk Kelas B (Fe), Mangan (Mn), Barite (Ba), dan Emas (Au) yang ditemukan di Kabupaten Kulon Progo. Di bidang listrik, terutama listrik, minyak dan gas di DIY dipasok oleh PT PLN dan PT Pertamina.

Pariwisata

Pariwisata merupakan sektor utama bagi DIY. Jumlah objek, dan daya tarik wisata di Yogyakarta telah menyerap kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. Pada tahun 2010, ada 1.456.980 turis yang datang, dengan rincian 152.843 dari luar negeri, dan 1.304.137 orang dari nusantara. Bentuk pariwisata di Yogyakarta meliputi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya, wisata alam, wisata minat khusus, dan berbagai fasilitas wisata lainnya seperti resor, hotel dan restoran. Tercatat ada 37 hotel berbintang, dan 1011 hotel melati di seantero DIY tahun 2010. Pelaksanaan MICE sebanyak 6.999 kali per tahun atau sekitar 12 kali per hari. Keragaman upacara keagamaan, dan budaya berbagai agama dan didukung oleh kreativitas artistik, dan keramahan masyarakat, membuat DIY mampu menciptakan produk budaya, dan menjanjikan pariwisata. Pada tahun 2010 ada 91 desa wisata dengan 51 diantaranya layak untuk dikunjungi. Tiga desa wisata di Kabupaten Sleman dihancurkan oleh letusan Gunung Merapi sementara 14 lainnya mengalami kerusakan ringan. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta pada bulan September 2014, jumlah kunjungan mencapai 2,4 juta wisatawan domestik dan 1,8 juta wisatawan mancanegara.

Secara geografis, DIY juga mendapat manfaat dari jarak antara lokasi wisata yang terjangkau, dan mudah ditempuh. Sektor pariwisata sangat penting untuk menjadi motor kegiatan ekonomi DIY yang pada umumnya mengandalkan tiga sektor utama yaitu: jasa; perdagangan, hotel dan restoran; dan pertanian. Dalam hal ini pariwisata memberikan efek multiplier yang nyata (multiplier effect) bagi sektor perdagangan karena meningkatnya kunjungan wisatawan. Selain itu, penyerapan tenaga kerja, dan sumbangan terhadap perekonomian daerah sangat signifikan.


Sosial budaya


Kondisi sosial budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi demografi; Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Kesejahteraan Sosial; Kesehatan; Pendidikan; Budaya; dan agama

Populasi dan tenaga kerja

Tingkat pertumbuhan penduduk di DIY antara 2003-2007 adalah 135.915 orang atau kenaikan tahunan rata-rata 1,1%. Populasi harapan hidup (UHH) di DIY menunjukkan kecenderungan meningkat dari 72,4 tahun pada tahun 2002 menjadi 72,9 tahun pada tahun 2005. Dari sisi distribusi penduduk berdasarkan usia, ada kecenderungan meningkat pada orang berusia di atas 60 tahun.

Proporsi pendistribusian penduduk berdasarkan usia produktif memiliki konsekuensi di sektor tenaga kerja. Tenaga kerja di DIY tahun 2010 adalah 71,41%. Di sektor ekonomi yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah sektor pertanian dan diikuti sektor jasa lainnya. Sektor yang potensial untuk dikembangkan adalah sektor pariwisata, sektor perdagangan, dan industri, terutama industri kecil dan menengah dan kerajinan tangan. Pengangguran di DIY menjadi masalah sosial yang serius karena karakter pengangguran DIY menyangkut beberapa profesional dengan tingkat pendidikan tinggi.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah kependudukan, dan ketenagakerjaan adalah melakukan program transmigrasi. Pelaksanaan pemberangkatan transmigran dari DIY hingga 2008 melalui program transmigrasi sebanyak 76.495 KK atau 274.926 jiwa. Dilihat dari pola transmigrasi sudah tercermin partisipasi, dan swasembada masyarakat, melalui Transmigrasi Umum (TU), Transmigrasi Asisten Swakarsa (TSB) dan Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM). Karena distribusinya telah menjangkau hampir semua provinsi. Rasio jumlah tansmigran mandiri pada tahun 2010 mencapai 20% dari total transmigran yang berangkat

Kesejahteraan dan kesehatan

Sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan, pembangunan kesehatan menjadi salah satu instrumen dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada tahun 2007 jumlah keluarga miskin adalah 275.110 RTM dan mendapat bantuan raskin dari pemerintah pusat (meningkat 27 persen selama periode 2006 sebanyak 216.536 RTM). Populasi DIY menurut tingkat kesejahteraan mencatat bahwa pada tahun 2007 kelompok pra sejahtera adalah 21,12%; Kemakmuran saya 22,70%; Kemakmuran II 23,69%; Sejahtera III 26,83%; dan Sejahtera III ditambah 5,66%. Tingkat kesejahteraan tahun 2010 meningkat dengan turunnya persentase penduduk miskin menjadi 16,83%.

Arah pembangunan kesehatan di DIY pada umumnya adalah mewujudkan DIY yang memiliki status kesehatan masyarakat tinggi tidak hanya di dalam batas negara tetapi juga memiliki ekuitas internasional terutama Asia Tenggara dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, peningkatan penjangkauan, dan kualitas kesehatan. pelayanan dan menjadikan DIY sebagai pusat kualitas pelayanan kesehatan, pelatihan pendidikan kesehatan dan konsultasi kesehatan. Hasil Penelitian Kesehatan Nasional Tahun 2010 menempatkan DIY sebagai wilayah tingkat provinsi dengan indikator kesehatan terbaik, dan paling siap untuk mencapai MDG's.

Pada tahun 2010 pencapaian indikator kesehatan untuk harapan hidup berada pada tingkat usia 74,20 tahun. Angka kematian bayi 18/1000 KH, angka kematian bayi 17/1000 KH, dan angka kematian ibu hamil 103 / 100.000 KH. Prevalensi malnutrisi sebesar 0,70%, Cakupan Rawat Jalan Puskesmas 16% sedangkan Rawat Inap sebesar 1,32%.

Dari 118 Puskesmas, 20% puskesmas telah menerapkan sistem manajemen mutu melalui pendekatan ISO 9001: 200; 7% rumah sakit telah menerapkan ISO 9001: 200; 25% rumah sakit di DIY telah diakreditasi dengan 5 standar; 17% RS diakreditasi dengan 12 standar; dan RS 5% telah terakreditasi dengan 16 standar layanan. Fasilitas perawatan kesehatan yang memiliki unit layanan darurat meningkat menjadi 40% dan rumah sakit dengan layanan kesehatan mental meningkat menjadi 9%. Meski demikian, cakupan rawat jalan di tahun 2006 hanya mencapai 10% (nasional 15%) sedangkan untuk rawat inap 1,2% (nasional 1,5%). Rasio pelayanan kesehatan dasar untuk keluarga miskin secara gratis di Unit Pelaksana Teknis DIY dan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota telah mencapai 100%. Rasio dokter umum per 100.000 penduduk menunjukkan kecenderungan meningkat 39,64 pada tahun 2006. Program Jamkesos pada tahun 2010 dianggarkan Rp. 34.978.592.000,00.

Penyakit jantung dan stroke telah menjadi pembunuh nomor satu di DIY sedangkan faktor risiko penyakit jantung DIY cukup tinggi. Rumah tangga di DIY tidak bebas rokok sebesar 56%, sedangkan remaja dengan perokok aktif adalah 9,3%. Sebanyak 52% penduduk DIY kekurangan kegiatan olah raga, dan hanya 19,8% penduduk DIY yang mengonsumsi serat cukup. Dalam tiga tahun terakhir tingkat obesitas pada anak-anak di DIY meningkat hampir 7%.

Pendidikan

Distribusi sekolah untuk tingkat sekolah dasar / sekolah menengah pertama merata, dan menjangkau seluruh wilayah desa. Jumlah SD / MI di DIY tahun 2008 adalah 2.035, SMP / MTs / SMP Terbuka nomor 529, dan SMA / MA / SMK dari 381 sekolah negeri dan swasta. Ketersediaan ruang belajar dapat dikatakan memadai dengan rasio siswa per kelas untuk SD / MI: 22, SMP / MTs: 33, SMA / MA / SMK: 31. Sedangkan tingkat ketersediaan guru di DIY juga cukup cukup dengan rasio siswa per guru untuk SD / MI: 13, SMP / MTs: 11, SMA / MA / SMK: 9. Untuk tahun 2010, pelatihan guru untuk tingkat SD / MI 3.900 guru telah memenuhi kualifikasi dari total 24.093 guru. SMP / MTs 3.939 guru telah memenuhi kualifikasi total 12.971 guru. Dan untuk SMA / MA sebanyak 4.826 guru telah memenuhi kualifikasi total 15.067 guru.
Lulusan SMP dan MTs umumnya bisa masuk SMP / MTs, sesuai dengan kebijakan Wajib Belajar Pendidikan 9 Tahun yang diproklamirkan oleh pemerintah. Pada tahun 2010, tingkat kelulusan SD / MI mencapai 96,47%, SMP / MTs mencapai 81,84% dan SMA / MA / SMK sebesar 88,98%. Sementara itu, angka putus sekolah pada tahun yang sama adalah 0,07% untuk SD / MI; 0,17% untuk SMP / MTs; dan 0,44% untuk SMA / MA / SMK. Sementara itu, jumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, baik negeri maupun swasta, serta perkantoran sebanyak 136 institusi dengan rincian 21 universitas, 5 lembaga, 41 sekolah menengah, 8 politeknik dan 61 akademi dirawat oleh 9.736 dosen.

Budaya

DIY memiliki berbagai potensi budaya, baik budaya berwujud (fisik) maupun tidak berwujud (non fisik). Potensi budaya yang nyata termasuk daerah warisan budaya, dan benda warisan budaya sementara potensi budaya tak berwujud seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial hadir di masyarakat.

DIY memiliki tidak kurang dari 515 bangunan warisan yang tersebar di 13 kawasan warisan. Adanya peninggalan aset budaya peradaban tinggi masa lalu, dengan Kraton sebagai institusi warisan yang masih awet, keberadaannya merupakan embrio, dan memberi semangat bagi pertumbuhan dinamika masyarakat dalam kehidupan kultural, terutama dalam budaya. seni, dan diperdagangkan secara tradisional. Selain itu, DIY juga memiliki 30 museum, dua di antaranya adalah Museum Ullen Sentalu, dan Museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum internasional. Pada tahun 2010, persentase objek warisan budaya tidak terbagi dalam kategori baik sebesar 41,55%, sedangkan kunjungan ke museum mencapai 6,42%

Keagamaan

Populasi DIY mayoritas Muslim adalah 90,96%, sisanya beragama Kristen, Katolik, Hindu, Budha. Fasilitas ibadah terus berkembang, pada tahun 2007 terdiri dari 6214 masjid, 3413 langgar, 1877 masjid, 218 gereja, 139 kapel, 25 candi / kuil dan 24 candi / pagoda. Jumlah pesantren pada tahun 2006 adalah 260, dengan 260 kyai, dan 2.694 ustaz dan 38.103 santri. Sedangkan jumlah madrasah baik negeri maupun swasta terdiri dari 148 madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah dan 35 madrasah aliyah. Kegiatan keagamaan juga bisa dilihat dari meningkatnya jumlah peziarah dari tahun ke tahun, dan pada tahun 2007 ada 3.064 jamaah haji.

Transportasi

Layanan keberangkatan dan pemberangkatan dipusatkan di Stasiun Tugu untuk kelas eksekutif, dan bisnis, sementara Stasiun Lempuyangan melayani penumpang kelas ekonomi, dan ongkos kirim. Saat ini untuk memperbaiki layanan jalur Timur-Barat telah dibangun jalur ganda dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Kutoarjo. Berkaitan dengan keselamatan di jalan raya, masalah yang berkaitan dengan layanan transportasi kereta api antara lain masih banyak jalan yang tidak dijaga. Selain kebakaran, Pemerintah DIY mengembangkan layanan Bus Trans Jogja yang merupakan prototipe layanan angkutan massal di masa depan.

Untuk pengangkutan sungai, danau dan penyeberangan, Waduk Sermo yang berada di Kabupaten Kulon Progo yang memiliki luas 1,57 km² dan memiliki keliling ± 20 km mengakibatkan pemisahan hubungan lintas lahan antar desa di sisi waduk dan desa lainnya di sisi lain. Di sektor pengangkutan laut dI DIY ada kapal pendarat (TPK) yang berfungsi sebagai pendarat pendaratan pencari ikan, dan atraksi pantai. Ada 19 tempat TPK yang dilayani ± 450 kapal penangkap ikan.

Di sektor transportasi udara, Bandara Adisutjipto, yang telah menjadi bandara internasional sejak tahun 2004, telah menjadi pintu masuk transportasi udara untuk Yogyakarta, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Keterbatasan fasilitas sisi udara, dan lahan yang berada di Bandara Adisutjipto menyebabkan Bandara Adisutjipto berfungsi sebagai pintu gerbang bagian selatan Pulau Jawa tidak bisa optimal. Status bandara "enclave civil" menyebabkan landasan pacu yang ada digunakan untuk dua tujuan: penerbangan sipil, dan pelatihan penerbangan militer.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »